Wahyu Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan (Perspektif Islam dan Barat)
Wahyu Sebagai Sumber
Ilmu Pengetahuan
(Perspektif Islam dan
Barat)
Oleh :
Abdul Karim[1]
A. Pendahuluan
Pembahasan mengenai sumber-sumber ilmu pengetahuan
dirasa penting akhir-akhir ini, karena banyak dari kita belum mengetahui dari
mana pengetahuan-pengetahuan yang kita peroleh berasal, melalui cara seperti
apa dicapai, dan bagaimana kerangka ilmu pengetahuan itu dibangun, oleh karena
itu, epsitemologi[2]
islam sangat penting untuk dikaji sebagai sebuah alternatif terhadap sistem
epistemologi barat yang begitu mendominasi wacana epistemologi kontemporer.
Sebelum membahas wahyu, kita akan berkenalan terlebih dahulu dengan “alat” untuk mencapai sumber-sumber ilmu pengetahuan itu, yaitu : panca indera, akal, hati(intuisi ) dan terakhir Wahyu, yang menjadi fokus pembahasan kita selanjutnya, dan bagaimana posisinya sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, pembahasan tentang wahyu akan dikupas secara mendalam, dimulai dari makna Wahyu itu sendiri secara bahasa, kemudian makna-makna wahyu yang terdapat di dalam al-Qur’an, hingga makna wahyu secara syar’i (yang diinginkan dari pembahasan ini), yakni : Wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pembawa risalah kenabian terakhir, yang nantinya terpresentasikan menjadi Ilmu-ilmu Agama islam.
Segala hal tentang Wahyu dibahas di lebih dalam di bagian ini, mulai dari tata cara turunnya wahyu, yakni terangkum melalui tujuh macam tahapan penurunan. Lalu, bukti-bukti secara akal yang menekankan keniscayaan terjadinya wahyu, juga berfungsi sebagai bantahan bagi para pengingkarnya. Yang mana mereka tidak memercayai adanya wahyu, karena pandangan hidup mereka bersifat materialis-sekularis dan menafikan metafisika[3].
Kemudian, kita akan membahas karakteristik wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan menurut pandangan Islam, yang sangat berbeda dengan sumber-sumber pengetahuan lain (yang hanya mengandalkan alat pemerolehannya melalui panca indra dan akal saja), dimulai dari Pemerolehannya dengan kehendak Allah bukan dengan usaha sendiri, Ketidaktundukkan Wahyu akan kehendak rasul dalam penurunannya, Keyakinan mutlak dengan ilmu yang diberikannya, Keterbebasannya dari pengaruh waktu dan tempat, Penafian hulul (bertempatnya) Allah dalam tubuh rasul ketika menerima wahyu dan terakhir bahwa wahyu memiliki sandaran yang jelas dan otoritatif, yakni Allah swt.
Selanjutnya, akan dibahas keistimewaan–keistimewaan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, yakni ia memiliki cara khusus dalam cara pemerolehannya yang berbeda dengan sumber ilmu perngetahuan lain, berunsur ketuhanan, ia bersifat tetap dan tidak berubah-rubah, komprehensif, seimbang dan positif dalam ilmu yang diberikannya.
Dan terakhir adalah bagaimana barat memandang wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun sebelumnya, kita ingin membicarakan dahulu siapa sebenarya barat itu?. Dan disini kita hanya akan membahas tiga kelompok yang dianggap cukup mewakilkan perspektif barat terhadap wahyu, yakni : Filosof Yunani, Filosof nasrani dan terakhir Filosof Barat modern.
B. Pengantar tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan
Ilmu dalam epistemologi Islam mempunyai kemiripan dengan istilah “science” dalam epistemologi barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi barat, dibedakan dengan “knowledge”, Dan Ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan “opini”.
Sementara sains di barat dipandang sebagai “Sebuah Pengetahuan yang terstruktur atau terorganisir” (any organized knowledge). Dan ilmu di dalam Islam didefinisikan sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala maa huwa ‘alaihi). Dengan demikian ilmu bukan sembarang pengetahuan atau hanya sekedar opini, melainkan ia adalah pengetahuan yang teruji kebenarannya. Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sains, hanya, sementara sains “pada masa selanjutnya” dibatasi pada bidang-bidang fisik atau inderawi saja, dan Ilmu melampauinya pada bidang-bidang nonfisik, seperti metafisika.
Menurut kamus Webster new world dictionary, kata “science” berasal dari kata latin scire yang artinya Mengetahui. Secara bahasa, science berarti “Keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan”. Namun kata ini kemudian mengalami “perubahaan pemaknaan” sehingga berarti “Pengetahuan yang sitematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip dari apa yang dikaji”. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran makna sains dari pengetahuan biasa, menjadi pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi inderawi. Tren ini kemudian mengarah pada pembatasan lingkup sains pada dunia fisik saja, bukan yang lain.[4]
Nah, sekarang marilah kita beralih pada pengertian atau pembahasan tentang ilmu. Ilmu berasal dari kata ‘alima yang artinya mengetahui. Jadi, kata ilmu secara harfiah tidak berbeda dengan kata science yang berasal dari kata scire yang artinya juga mengetahui. Ilmu disini didefinisikan, misalnya oleh ibnu hazm, sebagai “Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(ma’rifatu-s-syai’ ‘ala ma huwa ‘alaihi).
Pengertian ilmu sebagai pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa ilmu tidak begitu saja sama dengan pengetahuan biasa, karena pengetahuan biasa saja, tidak sebagaimana adanya, tetapi lebih sebagai pengetahuan umum yang didasari pada opini atau kesan keliru dari indera. Oleh karena itu, pengetahuan sebagaimana adanya mengisyaratkan bahwa pengetahuan tersebut haruslah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan tidak berdasarkan praduga dan asumsi belaka, dengan demikian ilmu memiliki kriteria yang juga dimiliki oleh sains (dalam epistemplogi barat) sebagai pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi.[5]
Demikian dapat disimpulkan bahwa pada awalnya ilmu dan sains mempunyai pengertian yang sama, bahkan juga lingkup yang sama, namun kemudian sains membatasi dirinya pada dunia fisik (dengan segala kompleksitasnya), sedangkan ilmu masih tetap meliputi tidak hanya bidang fisik, tetapi juga bidang lain seperti metafisika dan lain sebagainya.
Opini, seperti yang telah disinggung adalah pengetahuan umum atau sembarang pengetahuan yang kebenarannya belum teruji melalui penelitian-penelitian secara seksama.[6]
Pembatasan
lingkup sains (epistemologi barat) pada bidang fisik–empiris membuat pandangan
dunianya bersifat sekuler-materialistis. Berbeda dengan sains yang mengandalkan
observasi inderawi dan filsafat berdasarkan penalaran rasional atau logis, Agama
pada dasarnya bersandar pada Wahyu. Bersandar pada wahyu berarti bersandar pada
otoritas, yaitu otoritas dari penerima wahyu (disebut Nabi) sebagai utusan
Tuhan yang paling terpercaya. Tujuan
ilmu-ilmu Agama, menurut Ibnu Khaldun, bersifat praktis, yaitu untuk menjamin
pelaksanaan kehendak Allah, yang tertuang dalam syariatNya, sedangkan ilmu-ilmu
rasional bersifat teoritis karena ingin mengetahui segala sesuatu sebagaimana
adanya “ melalui penalaran”.
Agama dapat memberi penjelasan yang terperinci tentang pelbagai hal yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains dan tidak bisa diolah semata-mata oleh akal manusia, misalnya tentang nasib manusia setelah kematian, keadaannya di alam kubur, dan setelah hari kebangkitan, hanya Agama melalui wahyu yang diturunkan kepada para utusan Tuhan, yang dapat menguak dengan jelas dan otoritatif alam-alam gaib tersebut, bukan sains, dan bahkan, bukan pula filsafat.
Maka dari itu, Teori ilmu pengetahuan atau epistemologi, tidak dapat menghindarkan pembahasan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan, yakni sebagai tempat bahan-bahannya diperoleh. Sumber-sumber itu menurut epistemologi islam, tak lain adalah panca indera, akal, hati (intuisi) dan Wahyu.[7]
1. Panca Indera.
Panca Indera
sebagai sumber pengetahuan, sepintas lalu, tampaknya telah mencukupi kebutuhan
kita akan pengetahuan, karena melalu panca indera, kita bisa mengenal lima
dimensi, dari sebuah benda yang kita amati. Persepsi indera telah cukup memadai
untuk menghindari diri dari banyak bahaya yang sangat diperlukan untuk
kelangsungan hidup. Namun, pertanyaannya sekarang adalah apakah panca indera saja
sudah cukup memasok kebutuhan kita akan ilmu sebagai pengetahuan tentang
sesuatu sebagaimana adanya?. Apakah misalnya penglihatan kita telah mampu
memberi kita pengetahuan tentang sebuah benda, katakanlah langit, bulan atau
bintang ?. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa langit itu biru, bulan itu
pipih seperti piring, atau bintang itu kecil. Namun, Apakah penglihatan kita
melaporkan benda-benda itu sendiri sebagaimana adanya, atau hanya semata-mata
kesan yang terserap oleh mata kita belaka? Apakah kesan indera kita itu sama
dengan kenyataan (sebagaimana adanya) ?. Ternyata, dengan pertanyaan yang
sedikit kritis terhadap pengetahuan indera, kita tahu bahwa kesan indera itu
tidaklah sesuai dengan keadaan benda itu sebagaimana adanya, bahwa kita menduga
langit itu berwarna biru, padahal langit
itu sendiri tidak jelas definisinya.dan bagaimana bentuknya yang sebenarnya.
Indera kita mengesankan bahwa langit itu seperti kubah besar yang dapat dilihat dari dalam dengan bintang-bintang dan bulan menempel disana, tentu saja itu tidak sebagaimana adanya karena yang kita sebut langit : adalah ruang angkasa yang tak terukur jauhnya, yang tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan kita. Berdasarkan penglihatan, kita akan menduga bahwa bintang yang berkerlap-kerlip di langit ada disana pada saat kita melihatnya, padahal, menurut penyelidikan ilmiah, bisa saja cahaya bintang yang kita lihat sekarang telah sirna karena bisa jadi cahaya bintang yang kita lihat sekarang adalah cahaya yang berjarak jauh, yang membutuhkan jutaan tahun untuk merambat sampai ke mata kita, jadi disini menjadi jelas, bahwa kesan yang kita tangkap jauh berbeda dengan keadaan sebenarnya.
Dari contoh diatas kita menjadi sadar betapa indera kita yang sepintas, telah (dirasa) cukup memberi kita pengetahuan (informasi) tentang benda-benda inderawi. Ternyata, kita tidak cukup memadai untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, jika hanya mengandalkan panca indera saja. oleh karena itu, kita membutuhkan bantuan alat atau sumber lain untuk pengetahuan kita, dalam rangka untuk mengetahui tentang sesuatu sebagaimna adanya, yakni akal.[8]
2. Akal
Akal
bagi Imam Al-Ghazaly lebih patut disebut
sebagai sumber ilmu daripada indera. Misalnya, indera kita dapat melihat
bulan separuh saja pada satu saat, mata tidak dapat membuktikan adanya paruh
lain dari bulan yang tidak terlihat. Dalam hal ini hanya akal lah yang dapat
menyempurnakan bentuk bulan itu sebagaimana adanya, yang berbentuk bola. Demikian
juga akal lah dengan memakai ukuran tertentu yang dapat menaksir dan
menunjukkan dengan logika atau model matematika, ukuran sebuah planet, bintang
dan matahari, atau keliling bumi. Dengan akal juga lah kita dapat menyatakan
bahwa pensil dalam gelas yang penuh air itu lurus, sekalipun tampak pada
pandangan kita bengkok, karena bias cahaya.
Pertanyaan penting sekarang adalah bagaimana sebenarnya akal dapat menyempurnakan pencerapan indera kita dan memperbaiki kekeliruan kesan yang diterimanya?. Manusia dibedakan dari hewan oleh kecakapan mental yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh hewan apapun, yaitu Akal. Akal dapat melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh indera kita, yaitu kemampuan untuk bertanya secara kritis. Melalui kemampuannya untuk menanyakan beberapa hal penting seperti apa, dimana, kapan mengapa, bagaimana, siapa dan lain-lain. Akal telah menjadi sumber informasi yang luar biasa kayanya dengan menjawab semua pertanyaan tersebut, yang semuanya tidak bisa dipasok oleh panca indera.[9]
Namun kelebihan yang paling istimewa dari akal terletak pada kemampuannya untuk menangkap “esensi” dari sesuatu yag diamati atau dipahaminya. Dengan kecakapan ini, akal manusia dapat mengetahui konsep universal dari sebuah objek yang diamatinya lewat indera yang bersifat abstrak dan tidak lagi berhubungan dengan data-data partikular. Ketika kita memahami “esensi” manusia, sebenarnya kita bukan lagi berbicara tentang manusia a arau b melainkan berbicara tentang manusia dalam pengertian yang universal atau tentang sifat dasar kemanusiaan. Dengan kemampuan akal menangkap esensi dari benda-benda yang diamatinya, manusia bisa menyimpan jutaan “makna“ atau pemahaman tentang pelbagai objek ilmu yang bersifat abstrak sehingga tidak memerlukan ruang fisik yang luas di dalam pikiran kita.[10]
Namun, bisakah kita hanya dengan mengandalkan dari dua sumber alat pengetahuan itu, yakni indera dan akal untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya?. Ternyata tidak, akal juga memerlukan sumber ilmu pengetahuan lain, karena akal juga mempunyai beberapa kelemahan. Inilah beberapa kelemahan akal :
(1) Jalaluddin rumi berkata “ Akal boleh menguasai seribu cabang ilmu, tetapi tentang hidupnya sendiri, ia tidak tahu apa-apa, akal memang sangat berguna sebagai sumber ilmu , tetapi hanya sebagai kecakapan intelektual atau kecerdasan intelegensi, akal sering dibuat tidak berdaya, terhadap persoalan-persoalan hidup yang lebih dalam, yang menyangkut kehidupan emosional manusia. Ketika dihadapkan pada persoalan cinta, misalnya, akal tidak bisa berkata apa-apa. Pikiran kita akan buntu dan lidah menjadi kelu. Dengan kata lain, akal tidak mengerti banyak tentang pengalaman-pengalaman eksistensial, yaitu pengalaman yang secara langsung kita rasakan, dan bukan seperti yang kita konsepsikan, hanya hati( intuisi) yang mampu melakukannya.
(2) Akal dengan kebiasaannya meruang-ruang apa pun yang menjadi objeknya, Sehingga cenderung memahami sesuatu secara general atau homogen, sehingga tidak mampu mengerti keunikan sebuah “momen” atau “ruang” sebagaimana yang dialami secara langsung oleh seseorang. Bahwa setiap saat dari kehidupan kita itu unik, sulit dimengerti oleh akal, karena bagi akal, satu menit di sini akan sama saja dengan satu menit dimana pun. Atau, satu jengkal di sini, akan sama saja dengan satu jengkal di mana pun. Akal tidak akan mengerti mengapa bagi seseorang ada hari yang baik dan hari yang buruk. Demikian juga, akal tidak akan mengerti bagi orang-orang tertentu, ada tempat-tempat yang sakral dan ada yang profan.
(3) Akal, seperti yang dikatakan oleh rumi, tidak mampu memahami objek penelitiannya secara langsung karena akal dengan menggunakan kata-kata atau simbol hanya akan berputar-berputar seputar objek tersebut saja, tetapi tidak pernah dapat secara langsung menyentuhnya. Pengenalan akal terhadap objeknya adalah pengenalan yang bersifat simbolis, yakni melalui kata-kata, tetapi kata-kata saja tidak akan pernah memberi pengetahuan yang sejati(sebagaimana adanya) tentang sebuah objek yang dipelajarinya. Oleh karena itu, akal membutuhkan bantuan sumber lain untuk memahami sesuatu sebagaimana adanya, yakni hati (intuisi).[11]
3. Hati (Intuisi)
Sampai
sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan melalui panca indera maupun melalui
akal, kedua-duanya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Dan
intuisi adalah pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran
tertentu.[12]
Imam Al-ghazaly berkata “ketika kita dalam keadaan tidur(mimpi), tampak semua seperti masuk akal, tetapi ketika kita tersadar tampak betapa apa yang ada dalam mimpi, tidak masuk akal karena akal tidak mampu memahaminya”, bahkan Ibnu sina sendiri, sebagai filosof, yang sangat mengagungkan akal, tetap masih mengakui adanya daya yang lebih kuat daripada akal, yaitu “intuisi suci”, yang pada umumnya dimiliki oleh seorang nabi. Akal memang sangat kompeten untuk memahami apa yang disebut sebagai “pemahaman fenomenal“ tetapi tidak untuk “pengalaman eksistensial”, hanya hati atau intuisi lah yang mampu melakukannya yakni memahami secara penuh pengalaman tersebut.
Ketika akal tidak mampu memahami “Wilayah kehidupan emosional manusia” hati kemudian dapat memahaminya, hati(intuisi) yang terlatih akan dapat memahami perasaan seseorang. Ketika akal hanya berkutat, pada tataran kesadaran, hati bisa menerobos ke alam ketidaksadaran atau alam gaib sehingga mampu memahami pengalaman-pengalaman non inderawi termasuk pengalaman mistik atau religius. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan bahasa hati dengan makhluk-makhluk gaib, seperti malaikat, jin bahkan Tuhan sendiri, seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.
Hati juga mempunyai kemampuan untuk mengenal objeknya secara lebih akrab dan langsung. Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan eksperiental atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Ia mengerti “manis” bukan dari kata orang ataupun melalui bacaan, melainkan melalui mencicipinya. Ia, misalnya mengerti “cinta” bukan melalui mulut orang atau bacaan dan teori–teori cinta yang sering jauh berbeda dengan yang dialami, melainkan memahaminya dengan betul–betul jatuh cinta. Tidak bisa terbayangkan indahnya “mencintai” bagi akal, tetapi hati sangat memahaminya, sekalipun mungkin ia tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, karena mengungkapkan perasaan cinta mengharuskan kita menggunakan “peraturan” bahasa yang bersifat rasional dan logis.
Selain
itu, pengetahuan hati juga disebut “presensial” karena objeknya dipandang hadir
dalam diri atau jiwa seseorang. Tidak ada lagi jurang yang memisahkan seseorang
dari objek yang ditelitinya karena ia telah bersatu dan telah hadir pada
dirinya. Dari sinilah kita dapat mengerti mengapa banyak para sufi yang telah
merasa bersatu dengan kekasihnya yaitu Tuhan.[13]
Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul di benaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bisa juga , intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak pada waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutinya. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya, dan kita merasa yakin bahwa memang itulah jawaban yang kita cari namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai ke sana.[14]
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diandalkan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur. Namun, Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.[15]
Setelah membicarakan intuisi beserta karakteristik dan keistimewaannya, sekarang kita beralih untuk membahas mengenai wahyu, yang mana akan kita bahas disini lebih dalam serta posisinya sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dalam pandangan islam.
4. Wahyu
Wahyu
merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan
ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama merupakan
pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman,
namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat “transendental[16]” seperti latar
belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini
didasarkan kepada kepercayaan kepada hal-hal gaib. Kepercayaan kepada Tuhan
yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara
dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, maka wahyu merupakan
dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam
Agama. Suatu pernyataan harus dipercaya terlebih dahulu untuk dapat diterima.
Singkatnya, Agama dimulai dengan rasa percaya. Pengetahuan lain, seperti ilmu
biologi, umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak
percaya, dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan
atau tetap pada pendirian semula.[17]
C.
Wahyu menurut Islam
a.
Definisi
wahyu
Dikatakan: “wahaytu ilaihi, aw awhaytu”:
jika kamu mengatakan kepadanya dengan cara: kamu menyembunyikan perkataan itu
dari selainnya, dan wahyu adalah isyarat yang cepat, dan itu terjadi dengan
cara perkataan melalui lambang-lambang, atau simbol-simbol, dan kadang-kadang
hanya dengan suara saja, atau dengan isyarat dengan sebagian anggota badan.
Wahyu adalah isim mashdar, dan asal
kalimatnya menunjukkan dua makna asli, yakni “ketersembunyian dan kecepatan”
maka dari itu, dikatakan di dalam maknanya : Pemberitahuan yang tersembunyi
secara cepat dan khusus kepada yang ditujukan yang mana tidak diketahui oleh
selain dirinya.[18]
Wahyu di dalam al-Qur’an secara bahasa mencakup
banyak makna, diantaranya:
1.
Ilham yang secara
fitrah untuk manusia . seperti wahyu dari Allah kepada ibu nabi musa “ Dan
kami ilhamkan kepada ibu musa, susuilah dia” ( Al-qoshos ,ayat 7)
2. Ilham
yang melalui instink untuk hewan, seperti wahyu dari Allah kepada lebah “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah
buatlah sarang-sarang di bukit-bukit , di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat
yang dibikin manusia”( An-Nahl, ayat 68)
3. Isyarat
yang cepat melalui lambang atau simbol, seperti pewahyuannya nabi Zakariyya As
yang Allah ceritakan kepadanya “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya,
lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi
dan petang”(Maryam, ayat 11)
4. Gangguan
setan untuk menyuruh melakukan keburukan ke dalam jiwa manusia, “Dan
janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika
menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah
kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesunngguhnya kamu tentulah menjadi
orang-oeang yang musyrik.” ( al-an’am, ayat 121)
5. Perintah
Allah kepada Malaikat-malaikatnya :”(ingatlah ) ketika Tuhanmu mewahyukan
kepada para malaikat ‘ sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah
(Pendirian) orang-orang yang telah beriman’ ” ( Al-Anfal, ayat 12)[19]
Para
ulama sepakat bahwa wahyu Allah kepada nabi-nabinya secara syar’i yakni
; Perkataan Allah yang diturunkan kepada seorang nabi dari nabi-nabinya. Inilah
definisi bagi wahyu yang memakai isim
mashdar namun bermakna isim maf’ul atau al-muuhaa( yang
diwahyukan). Dan wahyu dengan bermakna isim mashdar secara istilah adalah:
“Pemberitahuan Allah kepada siapa saja yang dipilihnya dari hamba-hambaNya
sesuai keinginanNya untuk diberi
hidayah dengan cara tersembunyi dan
cepat”.[20]
Ayat yang menerangkan tentang diturunkannya wahyu
yakni: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan ( permulaann) Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara hak dan bathil”.(Al-Baqarah, ayat 185)[21].
b.
Tata
cara turunnya wahyu.
Allah melukiskan secara ringkas tahapan-tahapan
dan dasar-dasar penurunan wahyu dalam surah As-Syuro ayat 51. “Dan tidak ada bagi seorang
manusiapun mengetahui bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan
perantaraan wahyu atau melalui ‘di balik tabir’ atau dengan mengutus seorang
utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinnya apa yang dia
kehendaki. Sesungguhnya dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana”.
Dari ayat diatas kita dapat memahami tentang
tahapan-tahapan penurunan wahyu, yakni jika kita ringkas sebagai berikut:
1.
Allah menyampaikan apa
yang diinginkanNya atau disampaikanNya kepada nabi secara langsung dengan cara
yang tersembunyi cepat dan tanpa perantara.
2.
Allah menyampaikan
wahyu kepada nabi dari balik tabir
3.
Allah mengutus malaikat
kepada nabi, kemudian malaikat menyampakaikan kepada nabi apa yang diinginkan
Allah kepadanya.[22]
Para ulama telah membahas tahapan-tahapan
pewahyuan ini dan mencari keterangan keadaan-keadaanya yang terlukiskan di
dalam al-Qur’an dan Sunnah, dan kemudian merangkumnya kepada tujuh tahapan.
1.
Tahapan pertama:
penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur, seperti yang dikatakan oleh
sayyidah ‘aisyah dalam hadis shohih, “ Pertama dimulainya wahyu kepada rasul
adalah melalui penglihatan yang benar atau nyata dalam tidur”
2. Malaikat
datang kepada nabi secara sadar dan langsung. Maka malaikat meniupkan ke dalam
hati dan pikirannya tanpa mendengar dan melihatnya, seperti yang diriwayatkan
oleh syihab dan hakim dari ibnu mas’ud bahwasanya rasulullah saw berkata; “Sesungguhnya
ruhul qudus (malaikat jibril )memberikan ilham ke dalam hatiku dan bahwasanya
jiwa tidak akan pernah mati sampai sempurna rezekinya, maka bertakwalah kepada
Allah dan berbagus-baguslah dalam meminta”
3. Malaikat
menjelma menjadi seorang laki-laki maka dia bercakap-cakap dengan rasul dan ia
sadar secara langsung: seperti yang tertera di hadis masyhur dari
pertanyaan jibril kepada nabi saw tentang islam iman dan ihsan.
4. Malaikat jibril mendatangi nabi, dan nabi
melihatnya dengan bentuk malaikat yang sebenarnya dan persis seperti penciptaannya
dan nabi mendengarnya langsung, dan ini terjadi dua kali, pertama: ketika wahyu
turun pada surah al-muddatsir, dan kedua, di langit pada lailatul
mi’raj ketika di sidrotul muntaha atau langit ke tujuh seperti termaktub di
surat an-najm ayat 13-17.”Dan sesungguhnya Muhammad telah meihat jibril itu
(dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain. (Yaitu) di sidratil Muntaha.
Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat jibril ) ketika di
sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (
Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak ( pula )
melampauinya”.
5.
Malaikat mendatangi
nabi Muhammad dengan keadaan malaikat sebenarnya dan ia menyampaikan wahyu
kepada nabi Muhammad, lalu nabi Muhammad mendengarnya namun tidak melihatnya,
dalam keadaan ini wahyu datang seperti “berderingnya lonceng” dan itu adalah (keadaan
turunnya) wahyu yang paling dahsyat yang
datang kepadany
Empat macam tahapan pewahyuan ini, setelah
tahapan pertama, semuanya adalah gambaran untuk satu tahapan wahyu, al-Qur’an
menyebutkan, “Atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan
kepadanya dengan seizinnya apa yang dia kehendaki”
6.
Tahapan keenam : Allah
menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad melalui “dibalik tabir”, seperti yang
terjadi ketika lailatul mi’raj setelah ditetapkannya kewajiban sholat
lima waktu, kemudian Allah berfirman “ ahkamtu faridhoty wa khoffaftuu ‘ala
‘ibadiy “ dan seperti yang terjadi
kepada nabi Musa “ kallamallahu muusa takliimaa”
7. Tahapan
ketujuh : Allah menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad tanpa perantara
malaikat dan tanpa melalui dibalik
tabir, seperti yang diwahyukan kepada nabi Muhammad ketika lailatul mi’raj dan
Nabi berada diatas langit, dari kewajiban sholat, dan tahapan ini masuk dalam
firman Allah :
“ an yukallimallahu illa
wahyan “.[23]
c.
Bukti-bukti
‘aqli terjadinya wahyu
Karna wahyu adalah pembahasn pertama dan terbesar
untuk Agama Islam dan ia adalah jalan untuk sampai kepada pembahasan akidah,
pensyariatan, hukum-hukum Agama dan Akhlaq, maka dari itu banyak sekali para musuh-musuh Islam berusaha membenarkan
pendapat mereka dengan cara menyamarkan antara wahyu dan perkatan nabi dengan
cara yang dipercantik dan diperindah untuk mengokohkan pendapat mereka yang
salah. Maka perlu di kelompokkan bahwa para pengingkar terhadap wahyu terdiri
dari dua kelompok.
Kelompok Pertama: Para Ateis, mereka tidak
beriman atau tidak meyakini keberadaan Tuhan sama sekali, kecuali, mereka hanya
meyakini sesuatu yang besifat materi saja. mereka bukan hanya mengingkari wahyu
, tapi juga mengingkari lebih dari itu, yakni keberadaan Tuhan, maka sebaiknya
kita tidak usah berdiskusi dengan mereka dalam masalah wahyu, apalagi
berdiskusi dengan mereka dalam perkara Ketuhanan.
Kelompok kedua: Mereka beriman dengan keberadaan
Allah namun mengingkari wahyu, baik itu mengingkari secara mutlak, karna
mengingkari wahyu berarti mengingkari atau bukti secara akal untuk kemungkinan
adanya kenabian(nubuwwah), atau mengingkari dengan cara dibungkus rapi yang
terlihat mempertanyakan secara ilmiah, yakni mereka adalah para Orientalis.
Para orang sesat dari kebenaran diatas, adalah karna
mereka telah mengurung diri mereka didalam lingkaran materialisme dan mereka
tidak mengimani atau meyakini kecuali hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu-sesuatu
yang dapat dirasakan dengan panca indera saja, dan meremehkan perkara-perkara gaib,
seperti,ketuhanan, kenabian dan wahyu.
Maka wahyu sebenarnya sudah tidak bisa
diragukan lagi kepentingannya, karena ia adalah
sebagai asas yang mana dalil-dalil wahyu berdiri diatasnya,
perkara-perkara yang terjadi dan tetap dan bukan hanya sekedar
kemungkinan-kemungkinan belaka, karena wahyu dalam esensinya adalah sebuah ‘amaliah
yang mempunyai fenomena-fenomenanya sendiri, dan ia mempunyai hasil-hasilnya, yang
tergambarkan didalam al-Qur’an, dan Wahyu mempunyai kedudukan tersendiri, yakni
di kehidupan nabi dengan segala kejadian dan keadaannya.[24]
Nah, dari sini kita mengetahui kebutuhan atau
kepentingan untuk berpegang teguh pada kejadian-kejadian yang tetap yang mana
itu termasuk di dalam fenomena wahyu atau yang berkaitan dengannya. Dan ini
adalah beberapa bukti nyata akan keniscayaan
terjadinya wahyu.
1.
Ilmu
modern dan Hipnotis
Ilmu Modern
Sesungguhnya Ilmu modern bisa
membuat atau menemukan kembali keajaiban-keajaiban yang telah kita ketahui, dan
kita telah menyaksikan dan memanfaatkannya sendiri,seperti telefon nirkabel,
mikrofon dan lain sebagainya. Nah, dari cara itu memungkinkan manusia untuk
berkomunikasi dengan siapa saja, di daerah atau kawasan-kawasan yang sangat jauh
sekalipun, dan memahami, memahamkan atau mendapat petunjuk sesuai yang diinginkannya.
Jadi, apakah masuk akal setelah banyak sekali ditemukannnya penemuan-penemuan
hebat secara materi tersebut, Allah lemah dan tidak sanggup menyampaikan wahyu
kepada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, melalui atau tanpa perantara
malaikat? Padahal Allah lah Empunya dunia ini.[25]
Hipnotis
Ini adalah satu dari bukti-bukti
ilmiah yang sangat jelas, yamg mana merepresentasikan wahyu dengan sebenarnya
dan memperlihatkannya dengan cara eksprimen-eskperimen, namun mereka (para
pengingkar wahyu) masih tidak mau mengakuinya hingga sekarang. Dengan cara
mempertunjukkan bahwa ada hubungan antara jiwa manusia yang mempunyai kekuatan
yang lebih besar darinya dengaan yang lebih lemah darinya, kadang-kadang orang
yang memiliki jiwa lebih kuat, bisa membuat kejadian sesuai kehendaknya dan
mengukir informasi-informasi di dalam jiwa yang lebih lemah terebut, yang mana
belum pernah ada sebelumnya di dalam akalnya. Dan juga belum pernah terbesit
sebelumnya. Dan inilah yang diperlihatkan oleh Allah dari bukti yang
menakjubkan tadi, di dalam keajaiban hipnotis. Nah, dari sana orang yang
menghipnotis bisa saja jika dia mau menghapus pemikirannya atau akidahnya
dengan sekali tepukan atau isyarat, bahkan jika dia mau, dia bisa mengganti
nama yang dihipnotis tadi dengan nama yang lain. Jika hal seperti ini bisa
dilakukan antara manusia dengan manusia bagaimana pendapatmu jika yang
melakukannya adalah Pemilik kekuatan sejagat raya?.[26]
2. Postulat-postulat[27]
yang menekankan terjadinya wahyu dari Allah
a.
Nabi Muhammad Saw telah
tumbuh dalam keadaan ummy (tidak bisa membaca dan menulis) dan hidup di
tengah-tengah lingkungan yang tidak bisa membaca dan menulis pula, dan nabi
tidak mempunyai pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan sama sekali,
kecuali pemikiran-pemikiran yang
tersebar atau masyhur ketika itu, danbeliau (ketika itu) berada ditengah-tengah
budaya asli yang kental dengan animisme, dan tradisi masyarakat badui
(arab gurun). Orang arab ketika itu tidak mempunyai pengetahuan tentang
kehidupan sosial bangsa-bangsa selainnya, itu terlihat jika kita kembali
merujuk pada syair-syair arab masa jahiliyyah yang mana dianggap sebagai
rujukan terpercaya tentang pembasahasn ini. Dan kepergian nabi Muhammad ke
tempat uzlahnya(penyendiriannya) yakni di gua hira, dan beliau
ketika itu masih tidak memiliki bekal ilmu sama sekali, kecuali
pemikiran-pemikiran yang tersebar dan berkembang ketika dalam keadaan dan
situasi masa itu. Pada umur nabi Muhammad yang ke-empat puluh tahun datanglah
wahyu kepadanya, maka berbaliklah keadaan beliau, dari pengetahuan yang buta huruf
sama sekali, dan terkelilingi dengan pagar ganda yakni dari kebodohan secara
umum dan ketidakbisaan membaca dan menulis secar khusus bagi nabi Muhammad,
kepada pengetahuan yang sangat besar. Dan dengan pengetahuan itu menantang
manusia dan jin pada zamannya. Maka perpindahan ini, memberikan nabi Muhammad dalil
aqly bahwasanya yang terjadi dengan diri nabi Muhammad itu, bukanlah
berasal dari keadaannya secara sendiri, tapi ia berasal dari sumber yang Maha
tinggi, yakni berasal dari Allah Swt.[28]
b.
Sesungguhnya apa yang datang
dari al-Qur’an mengenai penjelasan-penjelasan tentang berita-berita umat-umat
terdahulu dan ketepatannya dengan apa yang ada di kitab-kitab suci terdahulu benar-benar
menunjukkan sesuatu yang pasti, bahwasanya al-Qur’an dari Allah swt, dan jika
tidak, tidak akan mungkin nabi mengetahui data-data sejarah, alam dan sosial yang
mana belum pernah terlintas sebelumnya di alam pikiran nabi Muhammad, bahkan di
pikiran orang-orang yang sezaman dengannya. Dari sini kita mengetahui ketika
yahudi menantang rasul untuk mengabarkan mereka tentang kisah nabi yusuf , maka
Allah mewahyukan kepadanya dan mengabarkannya tentang itu, nah dari sini
terlihat dalil ‘aqly yang tercapai oleh akal kita yang menekankan kepada
nabi, bahwasanya wahyu adalah fenomena tersendiri dan bukan berasal dari Nabi Muhammad.
Maka untuk itu Allah meyakinan nabi lagi tentang hakikat wahyu yang turun
kepadanya, dalam bentuk ayat yakni: “ maka jika kamu (Muhammad ) berada
dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah
kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu, sesungguhnya telah dating
kebenaran kepadamu dari tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang rugi” ( Yunus, ayat 94)[29]
d. Karakteristik Wahyu dalam Islam
1. Pemerolehannya menurut kehendak Allah, dan bukan dengan
usaha sendiri.
Wahyu
adalah “minhah ilahiyyah” atau pemberian ketuhanan yang mana Allah
memilih siapa saja dari hambaNya untuk menjadi objek penyampaiannya. Allah
berfirman “ Allah lebih mengetahui di mana Ia menempatkan tugas kerasulan”
. (al-An’am, ayat 124).Kenabian(nubuwwah) adalah sebagai hasil dari pemilihan
yang khusus dari Allah kepada salah satu makhlukNya untuk disampaikan kepada
manusia seluruhnya, seperti yang dikatakan Allah kepada nabi Musa “ Hai Musa
sesungguhnya Aku memilih(melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)
untuk membawa risalah-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku
berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”(
al-A’raf, ayat 144).
Dan
jika kenabian ini berdiri atas pilihan, secara ketuhanan murni, maka ia akan
membatalkan pemikiran sebagian filosof dan sufi bahwanysa kenabian bisa dicapai
melalui mawahib basyariyyah muktasabah (Potensi-potensi dasar manusia
yang bisa dicapai dan bisa didapatkan dengan jalan berusaha dan
bersungguh-sungguh), atau dengan cara melampaui batas dalam beribadah atau
dengan berlepas dari ketertarikan
kehidupan materialisme dan menjernih-bersihkan hati, atau dengan cara
memperlama bersusah-payah untuk berpikir dalam hal “esensi-esensi” sesuatu yang
mana dari situ akan terpancar ilham dengan nyata, dan akan turun bersamaan dengan
itu pengetahuan secara langsung.
Dan juga
membatalkan penganggapan kenabian adalah sebuah bagian dari kecerdasan
independen atau sebuah tingkatan dari kecerdasan murni yang memberikan kepada
orang yang mempunyainya bisa mempunyai persiapan yang kuat untuk berpindah dari
sesuatu yang telah diketahui kepada sesuatu yang belum diketahui dengan
kecepatan yang tinggi dan tanpa pengaturan cara-cara untuk mencapainya, dan
inilah yang dinamakan “intuisi” sepeti yang dianggap sebagian filosof.
Namun
yang benar adalah dengan cara memandang secara obyektif kepada keadaan nabi Muhammad Saw maka akan jelas tergambar
kebenarannya, dan kesalahan penganggapan bahwasanya kenabian(nubuwwah)
itu bersifat kasbiyyah atau bisa dicapai dengan usaha. Dan ditekankan
sekali lagi bahwasanya nabi tidak memperoleh nubuwwah dengan cara usaha kerasnya
sendiri, atau bersusah-payah berpikir yang melampaui batas, dan tidak pula
hasil dari kecerdasan yang diatas rata-rata. Dan belum ada sesuatu yang
menakjubkan sampai ketika umur beliau empat puluh tahun, juga, beliau belum
pernah berpikir filosofis untuk memperoleh hakikat sesuatu dari hasil berpikirnya
itu. Maka Allah berfirman “ Dan kamu tidak pernah mengharap agar al-Qur’an
diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang benar dari
Tuhanmu”.(al-Qoshos ayat, 86)
Maka
pekerjaan membandingkan antara seorang filosof yang memperoleh filsafat secara kasab
atau usahanya sendiri. Dan nabi, yang mana dianggap bahwa kekuatan nubuwwah
adalah kekuatan dari kekuatan jiwa, lalu menyamakan antara wahyu yang datang
kepada nabi, dan filsafat yang mana filosof mendatanginya dan selanjutnya sampai
kepadanya, semuanya ini adalah usaha yang mencoba menjauhkan nubuwwah dari
hakikatnya, karena ketidaktahuan tentang kenabian dan wahyu.[30]
2.
Ketidaktundukkan
wahyu kepada keinginan rasul dalam penurunannya.
Wahyu
terjadi hanya dengan mengikuti kehendak Allah semata, dan tidak tunduk dalam
waktu penurunannya atau penentuan tempatnya sesuai keinginan nabi Muhammad saw,
dan Nabi Muhammad tidak menunggu atau mengharap kedatangann Wahyu secara cepat
atau sesuai kehendaknya, maka dari itu, nabi Muhammad tidak memiliki pilihan
dengan wahyu yang turun atau terputus, namun turun sesuai kehendak Allah semata.
Keistimewaan
inilah yang membedakan watak wahyu dengan sumber-sumber pengetahuan lain. yang
mana sumber-sumber pengetahuan lain dibangun melalui proses kasbiyyah dan
tidak akan selesai atau sampai, kecuali melalui persiapan dan pengeluaran tenaga
atau usaha sendiri. Dan seperti seseorang yang telah mencapai tingkatan “’Arif”
untuk memperoleh pengetahuan seperti yang di usahakan oleh filosof, mulai dari
merenung , ndazhor dan bahts, atau jika ia seorang sufi, maka ia
memulainya melaui proses tajrid, istighroq ruuhiyy, dan fana.
Atau bisa jadi dengan membebaskan diri dan jiwa dari alam materi untuk
menemukan hasilnya, setelah itu, yakni hikmah filosofis atau kasyf suufiy.
3.
Keyakinan
mutlak dengan ilmu yang datang darinya.
Maka
wahyu dengan sifatnya sebagai bagian dari ilmu Allah, dengan inilah ia bersifat
mutlak dan tidak terbatas, maka ilmu Allah menembus dan melampaui batas-batas
waktu dan tempat, tidak ada ranah keilmuan apapun yang mampu melemahkannya,
yang mana sangat berbeda jauh dengan ilmu buatan manusia yang terikat dengan
batas-batas waktu dan tempat, dan berkembang dari dan melalui kemampuan-kemampuan
manusia yang terbatas. Dari sinilah, wahyu mempunyai keistimewaan dengan ilmu
yang disuguhkannya, bahwasanya ilmu dari wahyu adalah sebuah keyakinan yang
bersifat mutlak. Semuanya sama, apakah ilmu dari wahyu itu mengabarkan apa yang
telah terjadi, sedang terjadi ketika turunnya, yang akan terjadi, atau apa yang
telah ditetapkan dari informasi-informasi tentang alam gaib atau sunnatullah
dan lain sebagainya.
Dan
para ilmuwan telah mengakui bahwasanya ada dari sumber-sumber pengetahuan yang sifatnya terbatas, dan ada lapangan-lapangan
pengetahuan yang tumpul, atau tidak sampai untuk mencapai kepada tingkat keyakinan
tertinggi, maka sesungguhnya yang mereka maksudkan itu adalah sumber-sumber pengetahuan
yang berasal dari manusia, dan mereka tidak mencapainya, biasanya dalam
pengkajian mendalam mereka terhadap sumber-sumber itu, maka tersisalah wahyu
yang jauh berbeda dari itu semua, bebas dari segala ikatan, dan bersifat mutlak
dari ilmu yang disuguhkannya.[31]
4.
Keterlepasannya
dari pengaruh waktu dan tempat
Bahwasanya
waktu, tempat dan lingkungan, yang mana wahyu diturunkan ketika itu dan nabi
Muhammad Saw hidup di dalamnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh
sedikitpun dalam pembentukan pengetahuan yang datang kepada nabi Muhammad. Maka
kebiasaan-kebiasaan, budaya-budaya dan keadaan-keadaan, yang mengitari nabi
Muhammad Saw atau tempat asalnya, sama sekali tidak memberikan pengaruh
terhadap, ilmu-ilmu yang disuguhkannya.
Namun,
lain halnya bagi para filosof, keadaan para filosof dan para peneliti, dan
orang-orang yang tidak bisa berlepas dengan apa yang berkembang di
sekelilingnya, dan hal-hal yang telah tertanam di pikiran-pikiran mereka, lalu
kemudian menjadi postulat-postulat yang membentuk pemikiran-pemikiran mereka,
yang dengan itulah mereka berpikir.
Adapun
wahyu, maka karena ia adalah ilmu yang bersumber dari Allah, yang Maha
menguasai waktu dan tempat dan meliputi keduanya itu, dan apa yang terjadi
dalam waktu dan tempat tersebut. Maka wahyu terlepas dari itu semua, dengan
hukum penguasaan Allah atas segala sesuatu.
Namun,
yang tidak diinginkan adalah bahwasanya wahyu dianggap datang dalam keadaan “mitsaliyy”
atau jauh dari kehidupan nyata, wahyu dianggap menutup matanya dari
manusia yang ada ketika waktu turunnya. Penganggapan itu jelas tidak benar,
karna ilmu yang datang dari wahyu adalah ilmu yang bersifat “praktis”, turun
untuk sesuatu kehidupan yang nyata, memberikan pengaruh di dalamnya, dan tidak
akan pernah terpengaruh dengan keadaan terebut.[32]
5.
Penafian hulul (bertempatnya)
Allah dalam proses penyampaian Wahyu.
Wahyu adalah
suatu hal yang terjadi antara dua entitas, yaitu: sebagai yang menyampaikan
yakni Allah atau jibril yang mendapat penyampaian dari Allah, dan entitas yang
disampaikan, yakni rasul. Dzat Allah dan dzat jibril, mereka berdua ini berbeda
dengan dzatnya rasul. Dan rasul selalu
dalam keadaan berlepas ketika proses penyampaian. Sama, apakah penyampaian dengan
atau tanpa suara. Maka wahyu bukanlah bertempatnya dzat Allah di dalam dzat rasul
atau bersatunya mereka berdua. Karena, ada aliran yang mengangap bahwa Allah
bertempat dalam tubuh seseorang, yang dikatakan oleh isyroqiyyun dan ghuluw
mutashowwifah, dan yang paling terkenal diantara mereka adalah, hussen
ibnu manshur al hallaj, di abad ke tiga hijriah. Bahwasanya hallaj
telah menganggap ruh Allah dan ruhnya telah bergabung, bersatu dan bercampur
sampai menjadi satu kesatuan.[33]
6.
Memiliki
sandaran .
Karakteristik
wahyu jelas berbeda dalam hal sandaran, dengan sumber-sumber pengetahuan selainnya,
jika akal menyandarkan dalil-dalilnya kepada hal-hal yang fitrah dalam jiwa
manusia, untuk memperteguh bahwa apa yang diberikannya dari pengetahuan adalah
suatu yang benar.Dan jika pengetahuan yang melalui panca indera menyandarkan
kepada ekperimen-eksperimen, yang mana berpulang kepada akal, dan meneruskan
dari akal tersebut kepada pengetahuan yang benar. Maka sandaran wahyu adalah
dari ilmu Allah, yang mana ilmu Allah tidak mengharap bantuan dengan perantara
apapun untuk sampai kepada hakikat pengetahuan tersebut.
Maka
bagi yang diberikan pengetahuan dari sumber ini supaya beriman dan meyakini
bahwasanya wahyu adalah datang dari Allah dan bersandar dari ilmuNya yang Maha
luas, yang nantinya untuk menjumpai pengetahuan-pengetahuan dari wahyu ini, dan
bahwa ilmuNya adalah kebenaran yang mutlak, tetapi kedudukan akal manusia sebagai
perantara untuk mendapatkan wahyu dan memahaminya , maka akal diberikan oleh
Allah kepada manusia dalam rangka untuk memahami wahyu tersebut, yakni dengan
berkesesuaian dengan dasar-dasar-fitrahnya, dan yang menurunkannnya adalah yang
menciptakan manusia, sampai manusia memperoleh manfaat dari wahyu tersebut. Bahkan
wahyu sendiri sudah memberikan bukti terhadap banyak masalah yang
diselesaikannya dengan dalil-dalil akal, yang juga menyandarkan kepada akal,
kepada yang serupa dengannya dalam memperteguh pengetahuan-pengetahuan yang
datang dari wahyu tersebut. Contohnya dalam menjelaskan tentang ketuhanan dan
kemungkinan hari kebangkitan dan sebagainya, yang ini jelas berbeda dengan apa
yang dipandang oleh para filosof bahwa petunjuk wahyu hanya sekedar berita atau
informasi biasa.[34]
e. Keistimewaan-keistimewaan Wahyu sebagai sumber Ilmu Pengetahuan.
1.
Memiliki
cara khusus
Wahyu
sebagai sumber Ilmu pengetahuan mempunyai keistimewaan khusus, yakni melalui jalan
wahyu, bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum, namun diberikan hanya
untuk orang-orang yang terbatas dari manusia, mereka adalah para nabi yang Allah
pilih, untuk menyampaikan syariatNya kepada manusia. Kekhususan disini ialah
dalam hal wahyu sebagai jalan khusus untuk mencapai pengetahuan dan bukan
pembahasan mengenai pengetahuan kenabian itu sendiri, karena objek pengetahuan
kenabian adalah menyampaikan kepada manusia secara keseluruhan, tetapi yang
menyampaikan kepada manusia adalah para nabi dan rasul. Pengkhususan maknanya,
bahwasanya pengetahuan kenabian bukan untuk umum (keseluruhan manusia) seperti
panca indera dan akal, dan selanjutnya tidak tunduk kepada kaidah-kaidah atau
hukum-hukum panca indera dan akal atau ‘alam syahadah (alam nyata) yang
mana berasal dari fitrah manusia dan usahanya.[35]
2.
Berunsur
ketuhanan.
Pengetahuan
ini mengkhususkan dirinya, bahwasanya ia berunsur ketuhanan, apa-apa yang
dikhususkan dari pengetahuan ini selanjutnya kembali kepada keistemawaan ini
dan muncul darinya. Maka ilmu yang datang dari para nabi adalah datang dari Allah
dengan segala keistimewaannya dan hal-hal yang membentuknya dan para nabi
mendapatkannya secara sempurna tidak dikurangi atau dilebihkan sedikitpun,.dan
Allah telah menjamin dengan menjadikan para nabi terpelihara dari kesalahan
sampai terlaksananya penyampaian dan sampainya pengetahuan itu kepada manusia, dan
ia terbebas dari kesalahan-kesalahan yang umum dimiliki oleh manusia. seperti
yang termaktub dalam al-Qur’an:
”Seandainya
ia(nabi Muhammad ) mengada-adakan sebagian perkataan atas(nama) kami, niscaya
kami benar-benar pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar kami
potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu
yang dapat menghalangi (kami) dari pemotongan urat itu”.( Al
haqqah ayat 43-47)
“Demi
bintang ketika terbenam, kawanmu(Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,
dan tiadalah yang diucapkannya itu( al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya,
ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya)”( An
najm, ayat 1-4)
Dan
kemudian, maka sesungguhnya unsur ketuhanan adalah yang paling utama dari
keistimewaan pengetahuan ini, dan sumber keistimewaan ini, yakni ilmu yang
diwahyukan lansung dari Allah swt, dan hanya terbatas dari sumber ini saja dan
tidak bersandar kepada selainnya, oleh karena itu wahyu mempunyai kelebihan
dari konsep-konsep pengetahuan filosofis atau akal yang mana dibuat melalui
proses fikiran manusia. Sama, apakah dari hakikat ketuhanan, alam, kemanusiaan
atau segala yang berkaitan yang berdiri diatas pengetahuan kenabian ini. Maka tashowwur
falsafy (konsep pengetahuan filosofis) yang mana tumbuh dari pemikiran
manusia untuk berusaha menafsirkan segala yang wujud dan pengetahuan
pemikiran manusia, dan ia masih tunduk
kepada waktu, tempat dan lingkungan dan pengaruh-pengaruh luar yang
mengitarinya. adapun pengetahuan kenabian datang dari Allah melalui jalan nabi
yang ma’shum yang membawa manusia petunjuk, yang mencakup seluruh urusan
kehidupan, kedetilan dalam menafsirkan wujud dan membentuk kehidupan, kemudian
Allah menjamin dengan menjaganya dan mengantarkannya kepada manusia, dan kepada
siapa yang belum menyaksikannya dengan melalui jalan dalil mutawatir,
yang mana ia adalah jalan yang berderjat qhot’i di dalam pandangan ilmu
yang benar.[36]
3.
Tetap.
Pengetahuan
melalui jalan wahyu berasal dari Allah swt yang terbebas dari perubahan, hawa
nafsu manusia, dan keterpengaruhan dengan hal-hal yang berasal dari luar, yang
mana pengetahuan panca indera dan akal kadang-kadang berubah-ubah dan mengikuti
keadaan dalam kehidupan. walaupun pengetahuan akal lebih banyak menyerap dari
panca indera namun dia juga tunduk kepada keterpengaruhan jiwa dan keadaan
kehidupan, namun pengetahuan kenabian tidak akan pernah berubah dan berkembang
dan tidak mengalami perubahan secara bentuk maupun keadaan-keadaan yang terjadi
dari dasar-dasarnya selamanya, jika terjadi perubahan dan adanya permintaan
jawaban atas perubahan pengetahuan kenabian itu, maka itu adalah masih dalam
ketetapannya, dan boleh mempersilakan untuk meminta jawaban bagi perubahan keadaan
bersamaan dengan hukum dan petunjuk-petunjuknya dan ia masih bersifat tetap,
yang mana memberikan pengetahuan kenabian kemampuan untuk membentuk keadaan
nyata dan fleksibelitas penerapan ilmu-ilmunya.[37]
4.
Komprehensif.
Pengetahuan
ini memiliki ciri yakni, kekomprehensifannya tentang semua pengetahuan yang
tetap dan bergerak dan untuk dua alam yakni ;alam gaib dan alam nyata.
“Dan
Allah adalah tiada Tuhan kecuali Dia, mengetahui alam goib dan alam nyata “
( al-haysr ayat 22) dan dia menguasai semua
pengetahuan tentang ketuhanan, urusan-urusan penciptaan, ‘alam makhluq,
informasi-informasi manusia, keyakinan dan seluruh perbuatan makhluknya. Pengetahuan
ini untuk seluruh golongan manusia dan tidak ada pengkhususan untuk satu golongan
saja, maka esensi pengetahuan darinya adalah untuk seluruh manusia, dan tidak
khusus untuk seorang filosof atau seorang yang buta baca-tulis saja, namun
semua manusia mengambil yang pantas untuk diambil, walaupun mereka berbeda
dalam pengambilan. Dan ini bukan perbedaan dalam keharusan mengetahui, namun
perbedaan dalam memahami dan menambah pemahaman. Dan untuk memperdalam
pemahaman dan mempermudahnya, dan selanjutnya maka ia adalah keyakinan untuk
seluruh tingkatan manusia, keadaan, waktu dan tempat. Dan pengetahuan ini meliputi seluruh
pengetahuan kemanusiaan dengan apa yang ada di dalamnya dan apa yang dibaliknya,
mencakup juga untuk tentang permulaan dan akhiran penciptaannya dan seluruh
tafsiran ciptaan Allah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[38]
5.
Keseimbangan.
Kekomprehensifan
pengetahuan ini adalah komprehensif secara seimbang dan dari yang paling nampak
dari fenomena-fenomenanya, yakni keseimbangan dalam akidah, yang menggabungkan antara iman dengan alam
nyata dan iman dengan alam gaib, keseimbangan yang menggabungkan antara ilmu
dan amal, keseimbangan antara kebebasan kehendak manusia dan ketercakupan pengawasan
ketuhanan, dan keseimbangan dalam manhaj berpikir, yang mana mendidik
ruh, akal dan jiwa dan seluruh yang membentuk pengetahuann manusia itu sendiri,
yang menggabungkan kesendirian-kebersamaan, dan antara pembentukan materi dan
ruh. Terakhir yakni keseimbangan hubungan antara hubungan hamba dan Tuhannya.[39]
6.
Bersifat
positif .
Pengetahuan
ini bersifat positif yang aktif dalam hubungannya dengan Allah dan dengan alam kehidupan
manusia. Bersifat positif juga dari segi manusianya itu sendiri dalam
batas-batas ranah manusia dan batas-batas menjadi khalifah di bumi. Sifat
positif ini juga, nampak dalam akidah yang mendorong untuk beribadah dengan benar
dan terbebas dari hanya hubungan pikiran atau akal saja. Pengetahuan kenabian
ini Jauh dari tajsim dan ta’thil , yakni dengan memurnikan Allah
dari itu semua “ Ia tidak menyerupai
sesuatupun” ( as-syuro, ayat 11). Dan ia bersifat positif juga dalam setiap
ilmu yang Allah turunkan atas nabi, yang mendorong kepada perbuatan baik yang
selaras dengan fitrah murni manusia, dan ia bersifat positif juga untuk manusia
di alam, dan untuk mukmin dengan akidah ini dalam kehidupan yang nyata yang
mana mendorongnya untuk menjadi pengajak kepada Allah saw dan memimpin kepada
pergerakan pembebasan secara alami untuk manusia di bumi dari penghambaan
kepada selain Allah, dengan segala bentuk peribadatan, dengan maknanya yang
komprehensif dari mendapat ilmu-illmu syari’at dariNya dan menyebarluaskan
syiar-syiar Agama untukNya saja secara ikhlas.[40]
D.
Wahyu
menurut Barat
1.
Definisi
Barat
Barat
ataupun timur itu sebenarnya bukan letak geografis, sebab Kanada itu di utara,
Australia di selatan , tapi digolongkan sebagai Negara barat. Sementara negara
turki separohnya terletak di barat tapi
tetap dianggap Timur. Demikian pula Timur. Afrika itu di selatan , tapi
dikategorikan Timur. Negara-negara Arab itu tidak di timur tidak di Selatan,
maka mereka disebut Timur tengah. Itu semua adalah identifikasi Barat terhadap
dunia selain Barat.
Barat
sebenarnya menceminkan sebuah pandangan hidup atau suatu peradaban dan terkadang
ras kulit putih. Jadi, Pandangan Hidup barat merupakan kombinasi peradaban dan
pandangan hidup bangsa Yunani, Romawi, tradisi bangsa-bangsa jerman, Inggris,
Perancis dan sebagainya.
Maka
orang barat adalah: orang-orang yang berpandangan hidup barat dan kebetulan
peradaban ini didominasi oleh orang berkulit putih, (meskipun kini terdapat
pula barat berkulit hitam atau sawo matang). Worldview(pandangan keilmuan)
Barat atau cara pandang terhadap alam bagi mereka biasanya bersifat saintifik
dan tidak religius sama sekali.[41]
Disini
saya akan mempersempit pembahasan tentang perspektif barat mengenai wahyu,
dengan hanya menyuguhkan tiga pembahasan, yang saya kira, sudah cukup
mewakilkan perspektif barat secara keseluruhan.Pertama menurut para filosof
Yunani, Kedua para filosof Nasrani/Masehi, dan terakhir para filosof Barat
modern.
2.
Wahyu
menurut filosof Yunani.
Dalam
sejarahnya belum ada sejarawan yunani yang menulis bahwa Risalah samawiyah diturunkan
di negri yunani di zaman kebangkitan filsafat yunani, yang mana dimulai sejak
enam abad sebelum kelahiran nabi Isa as, namun yunani ketika itu, disesaki oleh
Agama-agama animisme, dan banyaknya pemikiran-pemikiran dan
keyakinan-keyakinan, yang mana orang-orang awam dan para filosof waktu itu
hidup bersama, kemudian dari sana menghasilkan pengaruh dalam hasil pemikiran
filsafat mereka selanjutnya, dan ketika itu mereka belum terlalu memerhatikan
tentang asal-usul dan sumber-sumber pengetahuan mereka, apalagi wahyu. Tetapi
sebagian mereka sudah ada yang menganggap bahwa Agama (yang bersumber dari
wahyu) hanyalah dongeng-dongeng yang dibuat oleh para filosof, penyair dan dukun-dukun di zaman sebelum
mereka, namun Plato ketika itu sudah membagi sumber-sumber Agama kepada tiga
bagian.
1.
Agama dongeng (mitologi)
yang dibuat oleh para penyair dan ahli seni untuk menghibur manusia.
2.
Agama yang dibuat oleh
para pemegang kekuasaan untuk menjamin ketaatan rakyatnya kepada mereka, yang
bersumber dari rasa takut dalam hati kepada Tuhan.
3.
Dan terakhir Agama bagi
para filosof, dan ini (yang dianggap Plato) menggambarkan hakikat kebenaran,
seperti yang dibenarkan oleh akal.
Inilah interpretasi para
filosof untuk Agama yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kenabian,
mereka seperti tidak tahu kenabian sama
sekali, seperti yang dikatakan oleh ibnu taimiyyah dalam kitabnya an-nuvbuwwat.
Kesimpulannya, bahwasanya para
filosof Yunani tidak mengetahui sama sekali tentang wahyu, maka dari itu mereka
tidak membahas penerimaan dan penolakan terhadapnya, ataupun ranah-ranah dan
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.[42]
3.
Wahyu
bagi para filosof nasrani.
Sudah
banyak risalah-risalah samawiyah yang mendahului risalah nabi Isa
as, kemudian datang dengan risalah-risalah itu para rasul yang mulia,
dan al-Qur’an telah menjelaskan ihwal-ihwal para pengikut rasul tadi, dan yang paling terlihat
adalah: penolakan kaum-kaum tersebut terhadap dakwah nabi-nabi mereka, dan
pengingkaran untuk menjadi “penghubung” mereka dengan Allah, nah, dari situlah mereka mempelajari wahyu yang turun kepada
para rasul-rasul itu, namun tetap dengan alasan, bahwa tidak ada rasul-rasul
yang bisa mengungguli mereka, dengan kelebihan-kelebihan pemikiran dan ruhani
yang mana membuat mereka menganggap diri mereka lebih tinggi dari tingkatan
manusia lainnya ketika itu, padahal mustahil turun wahyu bagi mereka.
“ Orang ini tidak lain hanyalah manusia
seperti kamu, yang bermasuk hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kamu”
( al-mu’minun ayat 24.).
“ Kami
tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seseorang manusia (biasa) seperti kami,
dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang
yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat
kamu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah
orang-orang yang dusta”.( Hud ayat 27.).
Nabi Isa
datang sebagai rasul, dan Allah menurunkan kepadanya wahyu dan hidayahNya untuk
bani Israil, sebagai pembenaran terhadap kitab taurat yang diwahyukan kepada
nabi Musa sebelumnya, dan kemudian mengajak kaumnya untuk mengikutinya, namun kemudian mereka menolak dan berpaling dari nabi Isa as,
nabi Isa as datang membawa Injil dan menyuruh mereka untuk berpegang teguh
dengan syariatNya dan meyakinkan semua kebenaran yang datang darinya yang belum
pernah diselewangkan.
Dan
sejarah telah mengukir dengan jelas penolakan bangsa yahudi terhadap dakwah
nabi Isa as, hanya sedikit dari mereka
yang mengikutinya, maka banyak dari mereka yang meninggalkan nabi Isa as bahkan
memusuhi dan memeranginya, kemudian Allah mengangkatnya ke langit, dan
menurunkan bencana bagi mereka, ketika kerajaan romawi menguasai mereka di
palestina.
Tetapi
walaupun begitu, masih ada sebagian manusia yang mengikuti ajaran nabi Isa as dan
pengaruhnya telah meluas, sampai memasuki
kerajaan Atena dan berinteraksi dengan pemikiran, filsafat dan kehidupan Yunani.
Dan orang yang pertama kali memasukkan ajaran nabi isa as ke Eropa adalah
Paulus. Setelah ia masuk ke atena, datang sekelompok orang yang dinamakan al-abquriyyin
dan al-ruwaqiyyin. mereka datang ke tempat perkumpulan paulus, kemudian,
mereka merendahkan dan meremehkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh paulu, seperti
akan dibangkitkan kembali orang-orang yang telah mati, dan lain sebagainya.
Agama nasrani
telah meluas dan banyak berubah, secara pengikutnya, ketika masuk eropa dan kitab-kitab
sucinya menjadi banyak, yakni injil-inji buatan yang telah bercampur dengan
wawasan dan pemikiran yunani, dan telah mampu, setelah masuk ke eropa untuk menguasai kehidupan manusia secara luas
dengan jangka waktu yang panjang sampai mencapai zaman kebangkitan eropa dengan sifatnya, yakni sebagai Agama
samawi yang berasaskan wahyu.[43]
Maka
kita akan membahas masalah wahyu ini bagi para filosof nasrani di abad
pertengahan, hanya di dalam sebuah masalah, yakni mengenai : Pandangan para
filodof nasrani kepada wahyu dari sudut pandang sumbernya sebagai pengetahuan
dan hubungannya dengan sumber-sumber pengetahuan lain.
Maka
para filosof nasrani zaman pertengahan terbagi menjadi dua golongan.
Golongan
Pertama : mereka yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua
hal yang saling berbeda, dan dengan ini, kita bisa menerima perkara filsafat
dengan akal dan Agama dengan Iman untuk mempercayainya.
Kebanyakan
para filosof nasrani zaman pertengahan menghubungkan antara akal dan naql atas
kaidah bahwa wahyu dari Allah dan mustahil terjadi pertentangan antara keduanya
dan akal meyakini wahyu sebagai petunjuk bagi kehidupan mereka.
Namun
mereka berbeda pendapat dalam konsep hubungan antara keduanya, sebagian mereka
berpendapat bahwa apa yang datang dari injil dari konsep kewujudan Tuhan berada
di atas kemampuan akal. Kemudian mereka menemukan masalah, untuk sampai kepada
pemahaman mereka secara independen, dan untuk bisa menyingkapnya sendiri.
Ini
adalah pandangan filosof nasranai di abad kedua masehi sampai abad ketiga belas
, dan pekerjaan mereka di abad-abad ini adalah : membentuk apa yang datang dari
injil dari konsep ketuhanan dan akhlak dengan bentuk pengetahuan yang terstruktur.
Golongan
kedua:Ini pada abad ketiga belas masehi, yang mana mereka telah
terpengaruh dengan filsafat aristoteles, maka dari itu bahwa para filosof nasrani waktu
itu membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia
berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui
wahyu.[44]
Para
filosof itu diantaranya adalah:
a.
Tertulian (165-220
M) salah satu dari pemuka Agama nasrani yang memperdalam studi tentang ketuhanan
dan ia berpendapat bahwa wahyu tidak membutuhkan pengetahuan selainnya,
kemudian ia membawanya kepada pembahasan filsafat, dan menyatakan permusuhannya
kepada Agama, kemudian memberitahukan keterlepasannya dari para pembuat Agama yang
mengikuti Aristoteles, dan ia berkata “ Setelah
adanya nabi isa dan injil, maka kita tidak membutuhkan lagi kepada
sesuatu apapun ”.[45]
b.
Diunisius,
hidup di akhir-akhir abad kelima kira-kira, dan ia menulis buku tentang
sifat-sifat Allah, malaikat dan lain sebagainya, dan menyatakan di dalam bukunya
itu, bahwasanya ia mengetahui Allah, dan sesuatu-sesuatu yang gaib dan ia tidak
mungkin mencapai kepadanya kecuali melalui jalan: memahami kitab-kitab yang
suci. dan bahwasanya perantara-perantara pengetahuan manusia, tidak
mengantarkan kita, kecuali kepada pengetahuan yang masih kurang, tentang alam
ruh, dan pengetahuan yang masih kurang mengenai Allah, maka Allah sendiri
mempunyai ilmu yang sempurna dengan dzatNya, dan Ia telah mewahyukan kepada
kita dari ilmuNya itu apa yang disanggupi oleh kemampuan kita.[46]
c.
Betras dimyani
(1007-1072M) salah satu pembesar pemikir ketuhanan di zamannya, dia menyampaikan
dengan keras bahwasanya adanya campur tangan akal, atau keniscayaan adanya
logika dengan apa yang ada di dalam
kitab-kitab suci dan kepercayaan-kepercayaan Agama, dan ia berkata tentang
kewajiban tegaknya semua ilmu dan metodologi-metodoogi berpikir dari
kitab-kitab ibarat pembantu kepada juragannya. Metodenya dalam berpikir
yakni bahwasanya ia menjadikan akal mempunyai tempat dan naql mempunyai
tempat, maka akal walapun bisa menyingkap pengetahuan-pengetahuan yang besar,
namun ia tidak bisa dengan sendirinya mencapai pengetahuan tentang hakikiat
segala sesuatu, dan berlepas dari kesalahan, yang mana wahyu memberikan kita hikmah ilahiyyah
yang sempurna mengenai Allah dan jiwa manusia, maka jika manusia ingin mengetahui
hikmah yang terpercaya maka ia wajib mengimani wahyu.[47]
4.
Wahyu
menurut para filosof barat modern.
Keadaan
telah berubah di Eropa setelah zaman kebangkitan terutama di abad-abad
pertengahan, di banyak segi secara praktik dan pemikiran, dan dari perubahan-perubahan
tadi, memberikan pengaruh dalam perubahan-perubahan selanjutnya yakni:
bahwasanya Agama nasrani telah menguasai kehidupan mereka ketika itu dan
khususnya dalam segi pemikiran, yang mana tidak bergerak kecuali dalam ruang
lingkupnya saja, dan selanjutnya filsafat secara mayoritas telah berkhidmah
kepadanya (Agama nnasrani), namun keadaan mulai berbeda setelah penguasaan itu
telah menghilang dan menurun, kemudian filsafat menjadi bergerak dalam
kebebasannya yang hampir mencapai kepada batas kehancuran dalam menentukan
sikap-sikap dan pembuatan teori-teori pemikiran mereka, Maka posisi para
filosof Barat Modern bagi Agama dan wahyu secara global adalah;
Sebagian
mereka memandang bahwa apa yang datang dari Agama adalah wahyu ilahy,
dan ia membawa dari sifat ini kebenaran mutlak dan kesempurnaan dari sumber pengetahuan
selainnya, dan terbebas dari kesalahan.[48]
Dari
mereka adalah : Falsity laminy (1854M) yang menyatakan bahwa Allah
mewahyukan dengan Agama yang benar, dan tidak akan pernah meninggalkan perkara
bagi akal untuk berpikir secara sendirian, dan bahwa geraja adalah pemilik
ajaran-ajaran yang mulia dan terbebani oleh Allah untuk menjaga wahyu secara
terus menerus, dan ia mengkritik orang-orang yang mengkaji Agama dengan akal-akal mereka sendiri, dan tidak
mempercayainya kecuali jika alasannya berasaskan akal logis mereka, dan sebagian yang lain mengangap bahwa wahyu
sebagai landasan untuk umat dan sebagai peraturan
hidup mereka, sebagaimana wahyu dianggap sebagai sumber pengetahuan dan
kebenaran bersama-sama.
Kemudian
sebagian yang lain beranggapan, yakni mereka yang hidup pada zaman dimana
teori-teori ilmiah berasaskan atas akal, dan eksperimen bersandarkan kepada
penyelidikan, penelitian dan pembelajaran sosial tanpa menghiraukan apa yang
tertera di dalam kitab-kitab suci mereka, yang mana para filosof ini menjelaskan
hubungan antara teori-teori praktis, pemikiran dan keyakinan-keyakinan Agama,
dan mereka berusaha mempresentasikan teori-teori ini, yang tidak mungkin dipertemukan
antara ia dengan ajaran-ajaran Agama, yakni dengan tujuan meragukan dan mengingkari
ajaran-ajaran Agama.
Orang yang
paling terkenal dengan metode berpikir seperti ini adalah, Rene descartes,
yang mana mendirikan “manhajnya” dalam pengetahuan atas intuisi dan istimbath
aqly, namun ia mengecualikan pengetahuan-pengetahuan yang datang dari Wahyu,
yang mana ia anggap di atas kemampuan akal. Dan Ia menyatakan : ada kaidah yang
seyogyanya harus dianggap terjaga dari kesalahan, ia adalah wahyu dan lebih
terpercaya dari selainnya. Dan Descartes berujar bahwa sumber dari pengetahuan
Agama adalah madad ilahy dan bukan aqlu-basyary.[49]
E.
Kesimpulan
Wahyu sebagai salah satu sumber ilmu
pengetahuan memang tidak bisa dianaktirikan apalagi dinafikan, karna wahyu
menduduki peranan penting dalam
membentuk ilmu-ilmu Agama Islam khususnya, ia mempunyai karakteristik yang jauh
berbeda dari sumber-sumber ilmu pengetahuan selainnya, yang hanya mengandalkan panca
indera , akal atau hanya intuisi saja.
Namun, ia bersumber dari ilmuNya Yang Maha luas
dan Maha mengetahui yang terlepas dari segala kesalahan dan perubahan. Wahyu
merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Manusia. Pengetahuan
ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Yang kemudian
menjadi petunjuk bagi manusia keseluruhan, khususnya umat islam.
Keniscayaan adanya wahyu, adalah sebuah fakta
yang tidak bisa terbantahkan lagi, untuk zaman sekarang. Melalui dalil naqli
dari Al-Qur’an dan dalil ‘aqly yakni melalui percobaan-percobaan ilmiah, yang
mana para ilmuwan di barat dan di timur mengamininya. Dan semakin menguatkan, bahwa
ada sumber ilmu pengetahuan yang sempurna, terlepas dari seluruh kesalahan dan
mencapai pada tingkatan kebenaran mutlak dari ilmu yang disuguhkannya.
Barat dengan pandangan hidupnya terhadap alam
yang hanya mempercayai hal-hal yang bersifat saintifik saja dan menolak
metafisika. Jika diruntut sejarahnya, pada masa awalnya, yakni pada zaman
fiolosof yunani kuno, mereka belum mengetahui wahyu sama sekali. Maka dari itu,
mereka tidak berpendapat terhadapnya. Namun, pada masa filosof nasrani, mereka
terbagi menjadi dua golongan pertama (abad kedua sampai ketiga belas), mereka
yang memandang bahwa filsafat dan Agama adalah dua hal yang saling berbeda, Golongan
kedua(abad ketiga bela hingga abad setelahnya) para filosof nasrani waktu itu
membedakan antara ilmu dan iman, yang mana ilmu dalam ranah filsafat dan ia
berdiri diatas akal murni, namun iman dalam ranah ketuhanan yang datang melalui
wahyu.
Daftar
Pustaka
Al-Kurdy,Hamid, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah
bayna al-Qur’an wa-l-falasifah, (Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)
Al-Qothhon, Manna’, Mabahits fi
‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Maktabah wahbah, 2015)
Az-zurqony, ‘Abdul ‘adzhim, Manahilul ‘irfan
fi ‘ulumi-l-Qur’an, (Kairo, Darus-salam,2015)
Ibnu zaid az-zunaidy, ‘Abdur-rahman, Mashodiru-l-ma’rifah
fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, ( Riyadh, Maktabah Muayyad,1992)
Ithr, Nurruddin, Ulumu-l-Qur’an Al-karim, (Kairo,
Darul-Bashoir,2014)
Kertanegara, Mulyadi, Menyibaik Tirai
Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung,Mizan,2003)
Muhammad Ibrahim,Husein, Al-Manar fi
‘ulumil-Qur’an, (Kairo,Maktabah al-Iman,2016)
Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer, (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan,2013)
Zarkasy, Hamid Fahmi, Misykat, Refleksi
tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan Islam,( Jakarta, INSISTS (Institute For the Study of Islamic
Thought and Civilizations ),2012)
[1] Santri Pengangguran
[2] Epistemologi: cabang ilmu filsafat
tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu pengeahuan
[3] Metafisika: ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan hal-hal nonfisik atau tidak kelihatan.
[4] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak
Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I,
2003, hal 1-2
[5] Ibid. hal 4
[6] Ibid. hal 5
[7] Ibid. hal 6
[8] Ibid. hal 18-19
[9] Ibid. hal 23-25
[10] Ibid. hal 26
[11] Ibid. hal 26-27
[12] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV,
2013, hal 53.
[13] Prof. Dr. Mulyadhi Kertanegara, Menyibak
Tabir Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan , Bandung, cet. I,
2003, hal 28-29
[14] Prof. Dr Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cet XXIV,
2013, hal 53.
[15] Ibid.hal 53
[16] Transendental:menonjolkan hal-hal yang
bersifat kerohanian, sukar dipahami, gaib, abstrak
[17] Ibid.hal 54
[18]
Manna’ al-Qhotton, Mabahits fi ‘ulumi-l-Qur’an ,Maktabah Wahbah,
Kairo, 2015, hal 26
[19] Ibid.hal 26-27
[20] Dr.
Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman,
Kairo, 2016, hal 129
[21] Ibid.hal 130
[22]Nurruddin
“Ithr, Ulumu-l-Qur’an Al-karim,
Darul-Bashoir, Kairo, 2014, hal 16-17
[23] Ibid.hal 17-19
[24]Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar
fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 139
[25]‘Abdul
‘adzhim Az-Zurqony, Manahilul ‘irfan fi ‘ulumi-l-Qur’an, Darus-salam, Kairo,2015,
hal 54
[26] Ibid hal 55
[27] Postulat: Asumsi yang menjadi pangkal
dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma
[28] Dr. Husein Muhammad Ibrahim, Al-Manar
fi ‘ulumil-Qur’an, Maktabah al-Iman, Kairo, 2016, hal 153
[29] Ibid hal 154
[30]‘Abdur-rahman
Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy,
Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 145-149
[31] Ibid.Hal 151-154
[32] Ibid.Hal 156-157
[33] Ibid.Hal 159-161
[34] Ibid.Hal 161-162
[35]
’Abdul Hamid Al-Kurdy, Nadzhoriyyatu-l-ma’rifah bayna al-Qur’an
wa-l-falasifah, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal 780-781
[36] Ibid. hal 781-783
[37] Ibid. hal 784-785
[38] Ibid. hal 785-786
[39] Ibid.hal 785-786
[40] Ibid hal 786
[41] Hamid
Fahmi Zarkasy, Misykat, Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, Dan
Islam, INSISTS(Institute For the Study of Islamic Thought and
Civilizations), Jakarta, 2012, hal 86
[42] ‘Abdur-rahman Ibnu Zaid al-Zunaidy, Mashodiru-l-ma’rifah
fi-l-fikry ad-diny wa-l-falsafy, Maktabah Muayyad, Riyadh, 1992, hal
103-107
[43] Ibid.hal 109-110
[44] Ibid hal 111
[45] Ibid hal 112
[46] Ibid hal 112
[47] Ibid hal 113
[48] Ibid hal 124
[49] Ibid hal 126
Komentar
Posting Komentar